0 7 min 4 tahun

Sinopsis Film

Ada adegan di rumah sakit, seorang bapak bercerita ke Aruna dan Farish tentang nikmatnya soto lamongan yang dicampur dengan berbagai macam bumbu seperti koya, jeruk, dan dicampur dengan ayam goreng suwir. Menulis ini saja bikin air liur saya membludak, apalagi dengerin langsung pas nonton movie, tapi Edwin tak mau orang teralih dengan kisah makanannya, walaupun sebetulnya dia mampu, buktinya saya terhipnotis hanya dengan 1 scene ini . Beberapa tampilan makanan yang ada pun juga menurut saya untuk bumbu yang manis dan tak perlu difokuskan karena sekali lagi ini bukan cerita tentang makanan, tapi cerita Aruna dan Lidahnya. FilmAruna & Lidahnyaini berpusat pada empat tokoh, yaitu Aruna , Bono , Nad , serta Farish . Aruna adalah ahli wabah yang ditugasi menyelidiki wabah flu unggas di beberapa kota.

Perjalanan mereka dibumbui oleh persahabatan dan problematika orang-orang berusia 30-an. Aruna dan Lidahnya bercerita tentang seorang ahli wabah/ahli epidemologi bernama Aruna Rai ditugasi menyelidiki kasus flu burung di beberapa tempat di Indonesia. Aruna pergi bersama Bono , koki profesional yang ingin menemukan resep kuliner otentik Tanah Air, juga Nad si kritikus kuliner yang ingin menulis buku. Seminggu sebelum penayangan film ini, empat jenis hidangan yang dipaparkan dalam film sudah dijual di kantin bioskop jaringan XXI hingga hari terakhir penayangan film di tiap bioskop sebagai bentuk kerja sama antara tim produksi film dengan XXI. Hanya “Nasi Goreng Si Mbok Aruna” yang dijual di beberapa bioskop tertentu, lainnya dapat dijumpai di seluruh bioskop.

Selain itu pula, kru dan para pemain sempat mengunjungi kawasan wisata Rindu Alam, menikmati sejumlah kuliner seperti chai kue, dan mengunjungi gerai pengkang di Peniti Luar, Siantan, Mempawah. Produksi film ini menghabiskan biaya yang lebih besar daripada Posesif. Alasan biaya produksi yang besar di antaranya biaya peralatan dan pengangkutan. Untuk menghemat biaya produksi, lokasi pengambilan gambar yang tadinya sepuluh kota dipangkas menjadi setengahnya.

Film Aruna dan Lidahnya

Produser Meiske Taurisia menjelaskan cerita yang diangkat ke layar lebar adalah adaptasi lepas dari novel Aruna dan Lidahnya sehingga kisahnya tidak sama persis dengan versi buku. tirto.id – Aruna dan Lidahnya, movie kedua dari Palari Films telah tayang di bioskop tanah air. Film yang dibintangi Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra ini diangkat dari novel karya Laksmi Pamuntjak. Francisca Romana Ninik dari Kompas menilai percakapan mengenai persahabatan, cinta, dan juga perselingkuhan dihidupkan dengan baik.

Ahli wabah Aruna Rai yang juga pencinta makanan ditugasi oleh perusahaannya untuk menyelidiki kasus flu burung di beberapa tempat di Indonesia. Aruna pergi bersama temannya Bono , seorang koki profesional yang ingin menemukan resep kuliner Indonesia yang otentik bersama dengan Nadezhda , seorang kritikus kuliner yang ingin menulis sebuah buku. Mereka melawat Surabaya, Pamekasan , Pontianak, dan Singkawang untuk melakukan penyelidikan kasus flu burung yang hanya dilakukan Aruna sekaligus juga berwisata kuliner.

Banyak pula adegan menyantap makanan di film ‘Aruna dan Lidahnya’, untuk menjaga berat badannya pun Hannah memutuskan untuk tidak sarapan dan baru makan pada saat mulai pengambilan gambar saja. Terlebih saat proses syuting, take menyantap makanan pun harus dilakukan berkali-kali, karena para pemain dituntut tidak hanya makan seperti biasa tapi harus terlihat menikmati hidangan. Film ‘Aruna dan Lidahnya’ tak hanya disukai oleh para pecinta movie, tetapi juga Menteri Keuangan Sri Mulyani. Sri Mulyani sangat suka dengan movie ini karena kental dengan budaya Indonesia. Jika kalian menonton film tersebut, movie ‘Aruna dan Lidahnya’ ini mengangkat budaya Indonesia di berbagai kota yang juga akan menambah pengetahuan penonton.

Film Aruna dan Lidahnya

Film ini juga merupakan movie panjang keempat karya Edwin setelah Babi Buta yang Ingin Terbang , Kebun Binatang , dan Posesif. Film ini sendiri awalnya tidak direncanakan sebagai movie kedua produksi Palari Films; sebelumnya studio film ini berniat memproduksi movie berdasarkan adaptasi dari novel keluaran 2014 berjudul Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan. Pada akhir 2016, mereka mengumumkan telah mengantongi hak adaptasi Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Karena ide yang diajukan Edwin, dalam sebuah wawancara, produser Muhammad Zaidy menyebut bahwa pemilihan Edwin sebagai sutradara bukan hanya karena Edwin merupakan bagian dari Palari Films, tetapi juga karena Edwin mengajukan ide tersebut. Edwin sudah bertemu dengan penulis novel, Laksmi Pamuntjak, untuk berdiskusi tentang kemungkinan adaptasi novel ke dalam movie.

Saya awalnya bertanya-tanya apakah kita, penonton, bisa melihat mereka sebagai tokoh yang benar-benar baru. Film berkisah seputar kehidupan biasa saja seorang perempuan biasa bernama Aruna yang pekerjaannya melakukan penanganan epidemi di sebuah LSM. Aruna bersahabat akrab dengan Bono yang berprofesi sebagai chef.Di dalam geng mereka juga terdapat satu orang lagi bernama Nadezhda alias Nad. Tokoh sentral keempat yaitu Farish yang dibenci-benci tapi rindu oleh Aruna.

Peran Aruna yang juga menjadi narator bagi penonton tak luput dari ulasan film. Purba Wirastama yang menulis ulasan di MetroTV menyebut sudut pandang Aruna menguasai keseluruhan kandungan film ini, dibuktikan dengan cara Edwin menunjukkan suara hati Aruna dalam cara sangat visual. Liza Novirdayani yang menulis ulasan untuk Kincir menyebut interaksi yang dilakukan Aruna memberikan gambaran perasaan hati Aruna, yang sering kali berbeda dengan apa yang ditunjukkan saat adegan ditampilkan. Pengambilan gambar melibatkan lima tempat yaitu Jakarta, Surabaya, Pamekasan, Pontianak, dan Singkawang. Pemilihan tempat ini mempertimbangkan pelbagai faktor mulai dari kebutuhan peralatan hingga tingginya biaya pengangkutan.

Saat pertama kali tiba di Surabaya, Aruna dan sahabat-sahabatnya segera mencoba rawon sapi khas daerah tersebut. Dalam filmnya, ditampilkan ciri khas rawon hitam dari Surabaya berasal dari bumbu yang bernama kluwak. Film Inonesia dibintangi Dian Sastrowardoyo, Hannah Al-Rasyid, Nicholas Saputra, dan Oka Antara.

Film Aruna dan Lidahnya

IndonesiaBahasaIndonesiaPendapatan kotorRp4,82 miliarAruna & Lidahnya merupakan movie drama Indonesia yang diadaptasi lepas dari novel berjudul sama karya Laksmi Pamuntjak dan dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Hannah Al Rashid, dan Oka Antara. Film ini adalah film kedua yang diproduksi Palari Films setelah Posesif dan movie panjang keempat karya Edwin. Film ini menggunakan musik yang merupakan perpaduan dari lagu lawas dan lagu baru. Film ini memenangi dua dari sembilan nominasi Festival Film Indonesia 2018 serta dinominasikan di delapan kategori Piala Maya 2018.

Live Streaming Bioskop Trans Tv 18 September, First Kill

Liputan6.com, Jakarta – Aruna dan Lidahnya menjadi salah satu movie yang wajib ditonton buat kamu para pencinta kuliner. Yup, film yang diadaptasi dari novel laris karya Laksmi Pamuntjak ini menyuguhkan cerita bertema makanan.