0 6 min 4 tahun

Review Film Fences

Script Fences terasa seperti mencoba agar dapat tampil efektif serta tepat sasaran, tidak ada ruang atau celah yang dapat Washington gunakan untuk “membakar” materi sedikit lebih dalam sehingga meninggalkan bekas dalam bentuk kesan yang lebih mendalam. Keyakinan saya pada kualitas film horor modern muncul ketikaThe Conjuringhadir di tengah kita dan memuncak saat saya mengetahuiGet Outmemenangkan pialaoscardan meraih banyaknominee. Saya mulai memperhatikan perkembangan film horor dengan berbagai macam style bahkanhorror-comedy. Saya semakin tertarik ketika harus memaksa diri saya untuk memahami karakter Troy.

Bersetting di tahun 1950-an, Fences juga menghadirkan Viola Davis sebagai aktris pembantu. Seperti yang saya utarakan sebelumnya bila Fences berpusat pada penceritaan mengenai konflik yang dialami Troy dan keluarganya. Dari hubungannya dengan kedua anaknya dimana Troy ingin mereka memiliki pekerjaan sesuai keinginannya yang berbentrokan dengan keinginan masing-masing sang anak. kesulitannya dalam mengurus saudara nya, Gabriel yang mengalami gangguan kejiwaan akibat luka yang diterimanya saat perang, hingga ketika movie beranjak ke pertengahan durasi ada sedikit kejutan yang menambah pula konflik yang ada.

Fences (Film)

Dari pernikahannya dengan Troy, Ia memiliki seorang putra bernama Cory, diperankan oleh Jovan Adepo. Cory merupakan seorang pemain baseball yang punya potensi, meneruskan kemampuan sang ayah.

Sebaliknya, ajakan saling memahami, menerima, dan memaafkan justru jadi sajian utama yang terpampang pula dari bagaimana ending-nya memancarkan kedamaian dan perdamaian. Berdasarkan Rotten Tomatoes, movie ini memiliki rating 93%, berdasarkan 240 ulasan, dengan rating rata-rata 7,7/10. Berdasarkan Metacritic, movie ini mendapatkan skor 79 dari one hundred, berdasarkan forty eight kritik, menunjukkan “ulasan yang baik”. Berdasarkan CinemaScore, film ini mendapatkan nilai “A-” dari penonton movie untuk skala A+ sampai F.

Ini kali ketiga dirinya bertindak sebagai aktor sekaligus sutradara dan produser, setelah film “Antwone Fisher” dan “The Great Debaters” . Film “Fences” sendiri mengangkat cerita dari naskah drama karya August Wilson yang berjudul sama. Cerita itu berdasarkan kisah nyata tentang kehidupan seorang pemain bisbol bernama Troy Maxson . Dia adalah seorang pemain bisbol terbaik di masa mudanya di kota Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat, namun harus menghadapi kehidupan yang sangat buruk pada usia tuanya.

Review Film Fences

Interaksi antar karakter pun tidak memenuhi durasi layaknya sebelum memasuki pertengahan dimana bisa mungkin three hingga four karakter berada di satu layar dan secara dinamis melakukan pertukaran dialog. Flaw ini yang membuat Fences tidak lah terlalu meninggalkan kesan meski di akhir durasi Fences ditutup dengan emosional lewat kesunyiannya. Enam tahun kemudian, Troy meninggal karena serangan jantung dan Cory, sekarang menjadi kopral, pulang ke rumah namun ia memberitahu Rose bahwa ia tidak akan menghadiri pemakaman. Rose mengaku mencintai Troy meskipun ia tidak sempurna, dan Troy masih menjadi bagian dari dirinya, dan Cory kemudian mempertimbangkan kembali setelah berinteraksi dengan Raynell dewasa .

Karakternya pun tiba dan pergi mencerminkan bagaimana pemain drama silih berganti keluar-masuk panggung. Soal membangun tensi begitu pula emosi, Washington murni mengandalkan performa pemain drama ketimbang memanipulasi menggunakan musik dramatis di mana scoring Marcelo Zarvos berfungsi mengiringi, melengkapi, mendukung, bukan mencuri fokus.

Kharisma Washington masih sulit tertandingi, sehingga di dalam film ini hanya satu yang mampu menyaingi sinar terang Washington ketika harus satu layar dengannya, tidak lain tidak bukan adalah Viola Davis yang memberikan performa terbaiknya sebagai Rose Lee. Namun tampaknya pihak Academy menaruh Davis di kategori serupa karena terlalu berat untuk melihat salah satu dari Davis atau Emma Stone pulang tanpa piala di tangannya. Walau keputusan tersebut harus mengorbankan Michelle Williams yang juga sebenarnya bermain cemerlang di Manchester by the Sea.

Review Film Fences

Ketika panggung teater memisahkan, tak kadang membuat jarak antara penonton dengan penampil, “Fences” menghilangkannya ketika Washington banyak memakai shut-up agar penonton mampu secara jelas mengamati, dicengkeram oleh ekspresi dan ledakan emosi aktor. Sebagai seorang kepala rumah tangga berumur fifty three tahun, Troy sedang bermasalah dengan keuangan keluarganya, setelah dia dipenjara karena melakukan pembunuhan yang terpaksa dilakukan akibat perampokan. Permasalahannya itu bertambah pelik, di mana ketika itu isu perbedaan ras tengah memanas. Troy sendiri yang merupakan seorang pria keturunan Afrika-Amerika, terpaksa harus berjuang keras dengan fisik dan mental untuk memperbaiki kehidupan keluarganya dan hubungan dengan teman-temannya dalam kondisi yang bermasalah itu. 139 menitNegaraAmerika SerikatBahasaInggrisAnggaran$24 jutaPendapatan kotor$sixty four.414.761Fences adalah movie drama Amerika Serikat tahun 2016 yang disutradarai oleh Denzel Washington dan diproduseri oleh Todd Black, Scott Rudin dan Denzel Washington.

Demikian pula Denzel Washington yang bergerak dan bicara penuh antisuasme serta energi sehingga penonton bakal terpaku, diam mengamati. Mykelti Williamson adalah Gabriel, adik Troy dengan gangguan psychological akibat cedera kepala saat Perang Dunia II. Karakter macam ini jamak hadir di teater sebagai “simpleton” sang pemicu gelak tawa.

Saya juga menyukai lewat konflik Cory dan Troy, Fences mengangkat isu ras yang memang masih cukup kental terjadi pada tahun 1950an. Denzel Washington yang juga terjun dalam memperubah sedikit naskah aslinya tampaknya memang telah begitu mengenal Fences layaknya ia mengenal telapak tangannya sendiri . Tidak ada lagi tampaknya karakter yang tepat memerankan Troy selain dirinya, karena menurut saya Denzel Washington adalah salah satu aktor yang semakin bersinar kala diberikan dialog-dialog yang panjang. Saya selalu betah melihat dirinya bercerita, atau pun ketika melakukan percakapan dengan karakter lainnya.

Review Film Fences

Resmi Diundur, Oscar 2021 Akan Digelar Kembali Tahun Depan, Catat Tanggal Penayangannya!

Rose sedari awal cenderung tenang, defensif, meneduhkan, sehingga saat Davis mencurahkan segala daya upaya meledakkan emosi saya pun dibuat tercekat. Adaptasi ke dalam media lain dapat berguna untuk melakukan yang sulit dicapai sumbernya.