0 7 min 4 tahun

Review Film Locke (2014)

Lockeadalah kisah tentang seorang pria biasa yang ingin memperbaiki dirinya dan berusaha untuk tidak menjadi seperti sosok yang begitu ia benci. Film-movie yang mengambil mayoritas settinghanya pada satu tempat sempit memang selalu menarik, unik dan penuh kreativitas. Tidak semua film seperti ini bagus memang karena banyak juga yang dimulai dengan meyakinkan sebelum mengendor di akhir karena kehabisan ide.

Hanya itu saja sinopsis yang bisa saya tuliskan, karena salah satu keasyikan terbesar menonton Lockeadalah mengikuti perkembangan alur dan konfliknya dari awal sampai akhir bahkan hingga detail yang terkecil sekalipun. Film Locke disutradarai sekaligus ditulis oleh Steven Knight, dibintangi oleh Tom Hardy yang berperan sebagai Ivan Locke. Ya, Locke hanya mengambil setting dalam mobil saja, dan jika kalian berpikir bahwa akan ada adegan seperti dalam film Fast & Furious atau semacam itu, kalian tidak akan menemukannya Geeks. Film Locke sepintas terkesan sederhana, seakan-akan hanya pergumulan kisah yang membosankan dan tidak menarik.

Locke bercerita tentang kegalauan Ivan Locke yang harus menghadapi situasi sulit dan penuh tekanan sepanjang film. Malam itu ia meninggalkan pekerjaan konstruksinya, kemudian membelah kota Birmingham dengan mobil BMW X5 nya menuju kota London. Tak seperti pengendara pada umumnya yang bisa santai mengemudi dan fokus, pikiran Ivan justru bercabang kemana-mana.

Performansi Tom Hardy di film tersebut sudah selayaknya memenangi penghargaaan dari Asosiasi Kritikus Film Los Angeles sebagai Aktor Terbaik. Sekarang aku tantang orang yang berani bilang bahwa gaya bercerita film Nay artsy, unik, kualitas tinggi, dan lain dari yang lain. Dalam Locke, Ivan menghamili seorang wanita dan dia ingin berada di sana saat proses kelahiran. Ivan Locke rela mengorbankan segalanya; pekerjaan, keluarga, practically he’s keen to throw his life away untuk bertanggungjawab. Ivan ingin melakukan hal-yang-benar, hal yang tidak dilakukan oleh ayahnya.

Secara keseluruhan film ini memang hanya memperlihatkan karakter Locke menyetir dan terlibat berbagai pembicaraan lewat telepon. Bahkan jika dibandingkan dengan Buriedmaupun 127 Hours, Locketerasa jauh lebih sederhana dan lebih minim gejolak. Buriedsetidaknya memberikan rasa terancam, ketegangan akibat berpacu dengan waktu sampai beberapa misteri, sedangkan Lockemeski berlokasi di dalam mobil tidak ada ketegangan apapun yang melibatkan mobil dan pengendaranya. Jangankan kejar-kejaran mobil, “nyaris kecelakaan” yang bisa menimbulkan efek kejut pun tidak ada. Tapi daya tarik utama Lockeyang juga membuatnya bakal terasa “berat” memang adalah eksplorasi karakter Ivan Locke dimana seiring dengan berjalannya durasi kita akan semakin memahami bahkan bersimpati pada sosok pria yang satu ini.

Berdurasi sekitar 1 setengah jam, penonton terjebak di dalam mobil dengan seorang pria yang sedang menelpon orang-orang terdekatnya dengan perangkat handsfree saat mengemudi dari Birmingham ke London. Dalam menonton movie, aku berprinsip “semakin sedikit tahu semakin baik.” Aku suka datang ke bioskop dengan berbekal minim pengetahuan tentang film yang hendak aku tonton. Aku enggak suka nonton trailer sebelum nonton movie utuhnya.

Tidak dapat dipungkiri ini segmented, bermain di satu warna walaupun ada gerak cekatan yang coba diberikan oleh Steven Knight pada elemen visual didalamnya. Meski tidak memiliki digital camera workyang luar biasa seperti Buried, Locketetap punya aspek sinematografi dan enhancing yang menarik sehingga settingBMW-nya tidak pernah terasa monoton. Hal ini memang beresiko, karena artinya film ini begitu mengandalkan kualitas penulisan naskah yang punya konflik minimalis, eksplorasi karakter, dan tentu saja akting Tom Hardy. Tidak hanya bagi penonton yang “awam”, bagi mereka yang menyukai film-movie seperti inipun Lockebisa saja membosankan jika ada aspek yang gagal dieksekusi secara maksimal. Tapi untungnya Steven Knight sanggup mengemas semuanya dengan baik.

Film bergenre drama motion journey karya dari sutradara sekaligus penulis J.C Chandor, hanya dibintangi oleh aktor senior Robert Redford, All Is Lost ini merupakan karya keduanya setelah movie Margin Call . Mengambil set di lautan Samudra Hindia, seorang pria yang tidak disebutkan namanya terbangun di sebuah kapal layar dan menemukan air laut masuk membanjiri kabin kapalnya. Karena bertabrakan dengan kontainer barang yang berada dekat dengan kapalnya, merobek lambung kapal. sebagai pertimbangan Locke menorehankan score 7.1 di IMDB, skor eighty one di Metascore dan 90% di Tomatometer.

Penggabungan dua teori tersebut yang dihadirkan secara sederhana oleh movie ini, Locke, bold and good experimental character study about human vs trouble. Walau tidak setegang Buried, namun percakapan yang ditampilkan tetap membuat kita penasaran, dan dengan pintar semuanya itu membentuk sebuah cerita yang cukup dinamis. Setiap hal dalam hidup kita adalah cerita, ini mungkin yang kita rasakan dari mencerna percakapan Ivan dan lawan-lawan bicaranya di telepon. Dan cerita itu taut-mentaut, jalin-menjalin, membentuk narasi yang apik, dengan segala konflik dan tekanan moral yang harus dialami Ivan dari berbagai pihak. Locke pertama kali ditayangkan pada Festival Film Internasional Venice ke-70 pada 2013 lalu.

Locke tahu pekerjaan yag ditinggalkannya malam itu teramat penting. Di saat fajar, ia seharusnya mengomandoi pengecoran beton konstruksi gedung yang disebut-sebut terbesar se-Eropa. Dua anaknya sudah menunggu Locke pulang untuk menonton pertandingan bola tim kesayangan mereka.

Jika kalian penggemar movie dengan tema survival, tentunya movie yang didasarkan dari memoir Aron Ralston berjudul Between a Rock and a Hard Placeini akan menjadi salah satu favorit kalian bukan. Meskipun memang tidak diawali dengan satu karakter, namun film 127 Hours ini benar-benar terfokus pada kesendirian Aron Raslton untuk bertahan hidup. Disutradarai dan ditulis oleh Danny Boyle ini mengisahkan seorang pendaki gunung dan petualang bernama Aron Ralston yang memulai perjalanan hikingnya di Taman Nasional Canyonlands di Utah. Di perjalanan ia bertemu dengan dua gadis dan menunjukkan mereka sebuah kolam bawah tanah. Setelah itu, Aron melanjutkan kembali petualangannya, dan terus melalui ngarai slot di Blue John Canyon.

Sang istri sudah menyiapkan bir Jerman kesukaannya dan memasak sosis. Istrinya juga bilang, mengenakan kaus tim bola sambil menonton. Jadi, kalau Anda menganggap movie yang bagus itu harus dimainkan banyak orang, Locke jelas bukan untuk Anda. Namun, bila Anda sedikit mengubah anggapan itu dan membuka hati untuk suatu pengalaman sinematik yang tak biasa, Locke adalah jenis tontonan macam begitu. Yang terakhir merupakan movie dari sutradara Rodrigo Cortés dan naskahnya ditulis oleh Chris Sparling.

Review Film Locke (2014)
Review Film Locke (2014)