0 6 min 4 tahun

Review FIlm Kuntilanak 2

Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan minat utama film.

Review FIlm Kuntilanak 2

Brotoseno pernah difitnah Tjokro Kusumo dan merencanakan balas dendam ketika ia menemui Kanti yang dipasung juga karena fitnah Tjokro Kusumo. Ia pun membebaskan Kanti dari rivalnya itu, dan memperlakukannya secara sama. Hanya saja, Brotoseno memasung Kanti di depan salah satu cermin Pengilon Kembar, cermin kembar yang dimiliki Tjokro Kusumo dan Brotoseno. Selain dipasung, Kanti pun dikenai berbagai ritual mengerikan guna mengumpulkan amarah pada dirinya.

Ternyata, Ambar tertidur di kincir angin seorang diri, hampir menjadi sasaran empuk kuntilanak. Dengan keramaian dan keceriaan di pasar malam itu, kemunculan sosok kuntilanak yang mengincar Ambar membuka tabir teror movie ini. Kuntilanak 2 jelas juga mendapatkan dukungan strong dari penampilan para pengisi departemen aktingnya. Bima, Skornicki, Fahrezy, Fikry, dan Brosnan yang kembali memerankan karakter mereka dari seri sebelumnya kini hadir semakin solid dan dengan chemistry yang semakin meyakinkan.

Dalam sekuelnya ini, sang sineas masih menggunakan formulation yang sama melalui pendekatan tokoh yang sama. Hanya saja, ceritanya kini mengambil sudut pandang masa lalu salah satu tokohnya, yakni Dinda.

Sam juga sering bermimpi tentang orang-orang yang Kuntilanak bunuh, seperti temannya, Dinda, dan pemimpin Mangkoedjiwo, Sri Sukma , yang menyesal telah menggunakan Kuntilanak. Putri dari keluarga tersebut, Yenny , langsung takut seketika dia bertemu Sam, namun orang tuanya tak tahu kenapa. Di sisi lain, sisa-sisa pengikut Sekte Mangkoedjiwo, yang baru kehilangan Sri Sukma, berhadapan dengan banyak masalah karena mereka tak dapat menguasai Kuntilanak lagi. Sementara itu, Agung , menjadi stres karena pernah diculik Kuntilanak.

Kuntilanak 2 hanya menggambil sisi dari sub-style dari film tersebut. Bahkan unsur komedi juga ikut ditampilkan di beberapa half dalam film Kuntilanak 2, walau memang tidak terlalu intens. Hanya sebagai pemanis dan sedikit menurunkan ketegangan karena sejak awal movie ini cukup menawarkan ketegangan. Bahkan mendekati klimaks saat mereka berada di sebuah pondok yang berada di tengah hutan terlarang dan menjadi tempat tinggal dari Karmila, penonton dibuat teriak dengan ketegangan yang Rizal Mantovani ciptakan. Sebagai gambarannya, untuk kalian penggemar dari movie-movie ratu horor Indonesia, Suzana, pastinya pernah menonton film yang diperankannya.

Kuntilanak 3, Penutup Trilogi Kuntilanak

Peningkatan yang akan cukup untuk membuat penonton penasaran mengenai kelanjutan seri film ini di masa yang akan datang. Tidak banyak, namun setidaknya menjadikan movie ini menjadi lebih kuat dalam presentasinya.

Satu contoh adegan menarik ketika teknik crosscutting memperlihatkan aktivitas mereka di rumah angker dengan Tante Donna di rumahnya yang tengah menyelidiki identitas Karmila. Adegan yang menyajikan aksi ketegangan macam ini sayangnya tak banyak digunakan dalam filmnya. Sebagai penutup, Kuntilanak 2 rasanya ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya keluarga dan kebersamaan dalam menghadapi masalah, namun sayangnya kurang mengena pada akhir kisahnya.

Satu-satunya benda yang dibawa Sam dari rumah kos lama adalah cermin kuno yang fungsinya kini tak jelas (dulu menjadi “pintu” keluar Kuntilanak). Lucunya, tempat kos Sam yang baru, sebuah ruko milik keluarga Tionghoa suasananya justru dibuat remang-remang. Juga ilustrasi musik yang pada seri pertama banyak mendukung adegannya, kini hanya menonjol pada opening title-nya saja. Naskah buatan Alim Sudio mengajak kita mengarungi perjalanan panjang sebelum menggedor melalui teror. Walau niatan untuk menyampaikan cerita ketimbang kompilasi bounce scare pantas diapresiasi, tanpa atmosfer memadai maupun modal cerita stable, yang hadir hanyalah kekosongan.

Jadi, Kuntilanak 2ini masih cukup worth untuk dijadikan tontonan libur lebaran tahun ini. Menghibur, seru dan menegangkan, meskipun masih meninggalkan banyak adegan klise dan pengulangan dari film pertamanya tentunya. Sebagai lanjutan movie yang masuk dalam jajaran elit film diatas 1 juta penonton di tahun 2018 silam, Kuntilanak 2jelas memiliki beban cukup berat. Apalagi tanggal rilisnya bersamaan dengan 4 movie Indonesia lainnya yang juga berpotensi mendatangkan banyak penonton.

Di lain pihak, pacar Sam, Agung yang masih trauma karena kejadian silam mulai berani menghadapi rasa takutnya dan mencari Sam. Sementara sekte sesat bernama Mangkujiwo merasa terancam karena hanya Sam yang kini memiliki wangsit untuk memanggil Kuntilanak.

Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian movie. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Dikisahkan Julia , putri bungsu Tante Donna yang kuliah di luar negeri kini tengah berlibur di Indonesia.

Review FIlm Kuntilanak 2

Perkembangan cerita selanjutnya berputar-putar sekitar konflik batin Sam serta usahanya bersama Agung untuk lepas dari ancaman sekte Mangkujiwo. Bukan buku demi buku, bukan pula halaman demi halaman, melainkan kalimat demi kalimat. Setelah beberapa waktu, kita akhirnya sampai di fase “mengurangi kuantitas jump scare”. Tapi kita belum mencapai usaha memperbaiki kualitas trik menakut-nakuti, setidaknya tidak secara signifikan.

Baik chemistry antar karakter serta sisi komedi terasa begitu hambar, tidak seperti pada seri pertama yang mampu membawa penonton tergelak dengan polah mereka. Masa lalu Dinda dan keluarganya memang menjadi konflik utama, namun dengan kilas balik yang begitu minim, sulit untuk bisa berempati dengan kisahnya. Cerita tentang sosok hantu lokal Kuntilanak, rasanya memang tidak ada habisnya dieksplor oleh sang sineas. Dalam movie seri pertama , sang sineas mencoba menggunakan formula baru dengan menggunakan para pemain yang didominasi anak-anak. Kala itu, filmnya mendapatkan apresiasi yang lumayan dari masyarakat dengan meraih 1,2 juta penonton.